Amr bin Al-Jamuh: Kaki Pincang yang Membawanya Melompat ke Surga

Kisah para sahabat Rasulullah SAW selalu menyuguhkan hikmah yang mendalam. Salah satu kisah yang paling menggetarkan hati adalah tentang Amr bin Al-Jamuh, seorang tokoh dari kalangan Ansar, pemimpin Bani Salamah, sekaligus salah satu orang terpandang di Yatsrib (Madinah).

Meskipun ia memiliki keterbatasan fisik, yaitu kaki yang pincang, semangat dan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya justru membawanya melompat menuju surga-Nya.

Kisah Hidayah Amr bin Al-Jamuh Lewat Keluarga

Sebelum memeluk Islam, Amr bin Al-Jamuh adalah seorang penyembah berhala yang sangat taat. Ia bahkan memiliki patung pribadi yang terbuat dari kayu berharga di rumahnya, yang dinamai Manat. Namun, hidayah mulai masuk ke rumahnya melalui istri dan anak-anaknya yang telah lebih dulu masuk Islam secara diam-diam.

Melihat sang ayah yang masih kokoh dalam kekufuran, anak-anak Amr menyusun sebuah rencana. Oleh karena itu, setiap malam mereka diam-diam mengambil patung Manat dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah.

Sumber: Google

Pagi harinya, Amr selalu mencari patungnya dengan amarah, membersihkannya, dan memberinya wewangian. Akan tetapi, kejadian tersebut terus berulang hingga beberapa malam.

Akhirnya, pada malam terakhir, Amr mengalungkan sebuah pedang di leher Manat dan berkata, “Jika kamu memang memiliki kekuatan, belalah dirimu sendiri!”

Keesokan paginya, ia menemukan patung tersebut terikat bersama bangkai anjing di dalam sumur yang kotor. Melihat pemandangan tragis itu, Amr bin Al-Jamuh pun tersadar. Ia menyadari bahwa benda mati yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri sama sekali tidak layak disembah. Seketika itu juga, ia memutuskan untuk menemui Rasulullah SAW dan mengikrarkan keislamannya.

Semangat Jihad dengan Kaki Pincang di Perang Uhud

Ketika Perang Badar berkecamuk, Amr bin Al-Jamuh dilarang oleh anak-anaknya dan Rasulullah SAW untuk ikut serta karena kondisi fisiknya yang pincang. Dalam Islam, orang yang sakit atau memiliki keterbatasan fisik memang mendapatkan uzur untuk tidak pergi berperang.

Namun, saat Perang Uhud tiba, semangat jihad Amr tidak lagi bisa dibendung. Ia merasa cemburu melihat para sahabat lain berlomba-lomba menjemput syahid. Anak-anaknya kembali mencoba menahannya, tetapi Amr justru menghadap Rasulullah SAW untuk mengadu.

“Wahai Rasulullah, putra-putraku ingin menahanku dari perang ini demi bersikap bakti kepadaku. demi Allah, aku sangat ingin menginjakkan kakiku yang pincang ini di surga!” ucap Amr dengan penuh keyakinan.

Melihat ketulusan yang luar biasa tersebut, Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada anak-anaknya, “Biarkan dia pergi, semoga Allah menganugerahinya pahala mati syahid.”